<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nadine&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://nadine270101.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nadine270101.wordpress.com</link>
	<description>Blog tentang kumpulan cerita-cerita pengantar tidur</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Dec 2009 15:50:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nadine270101.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Nadine&#039;s Blog</title>
		<link>http://nadine270101.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nadine270101.wordpress.com/osd.xml" title="Nadine&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nadine270101.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Paman Dermawan</title>
		<link>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/29/paman-dermawan/</link>
		<comments>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/29/paman-dermawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 15:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Harian]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/29/paman-dermawan/</guid>
		<description><![CDATA[Bentuk roti-roti Paman Pablo seperti badan sang pemilik nama. Besar-besar. Mantap. Pas untuk orang yang banyak makan. Harganya pun mahal. Lebih-lebih mereka membeli dengan uang sakunya sendiri. Bibi Pablo menyarankan Paman Pablo untuk membuat roti dengan ukuran kecil juga. Namun, Paman Pablo keras kepala. Bila sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Itulah sebabnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=14&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bentuk roti-roti Paman Pablo seperti badan sang pemilik nama. Besar-besar. Mantap. Pas untuk orang yang banyak makan. Harganya pun mahal. Lebih-lebih mereka membeli dengan uang sakunya sendiri. Bibi Pablo menyarankan Paman Pablo untuk membuat roti dengan ukuran kecil juga. Namun, Paman Pablo keras kepala. Bila sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa menggoyahkannya. Itulah sebabnya, sejak toko rotinya buka, hanya roti besar-lah yang memenuhi toko miliknya.<br /> &#8220;Seperti ini saja sudah laris, mengapa mesti membuat yang lain ? Lagi pula aku hanya mau berurusan dengan orang kaya.,&#8221; begitu katanya.<br /> Begitulah, toko roti Paman Pablo terkenal dengan roti besar yang lezat. Sayangnya, tidak semua orang mampu membelinya.<br /> Suatu hari, hari masih pagi saat toko buka. Di depan pintu toko roti, berdiri seorang anak perempuan. Kurus, berbaju lusuh, berambut merah dan berkulit gelap.<br /> &#8220;Mau apa ?!&#8221; Paman Pablo mengira anak itu peminta-minta.<br /> &#8220;Beli roti, satu, Paman.&#8221; sahut anak itu dengan takut. Paman Pablo tidak senang mendengar jawaban tersebut.<br /> Satu. Astaga! Pelanggan toko rotinya belum pernah ada yang hanya membeli satu potong.<br /> &#8220;Tapi dia beli, bukan minta,&#8221; usik hati kecil Paman Pablo.<br /> Maka Paman Pablo membiarkan anak itu masuk tokonya.<br /> Setelah mengambil sebuah roti, anak itu memasukkan tangan ke saku, dan mengeluarkan segenggam uang. Uang logam dengan nilai terkecil. Anak itu menghitung uang logam tersebut satu demi satu di meja kasir. Paman Pablo memperhatikan gerakan tangan anak itu. Tiba-tiba sebuah perasaan sedih menyelinap ke dalam hati Paman Pablo. Uang logam kecil-kecil. Teringat olehnya saat ia masih kecil dulu. Hidupnya susah. IA mesti bekerja untuk mendapatkan upah yang tak seberapa. Kemiskinan membuatnya bertekad menjadi orang kaya. Dan sekarang, saat sudah berhasil, mengapa ia melupakan anak-anak yang tak beruntung seperti dia dulu.<br /> &#8220;Kamu tak perlu membayarnya,&#8221; mata Paman Pablo berkaca-kaca.<br /> Ia lalu mengambil sebuah dus, mengisinya dengan setengah lusin roti, dan memberikannya pada anak perempuan tadi.<br /> &#8220;Siapa namamu?&#8221;<br /> &#8220;Tatia, Paman&#8221;<br /> &#8220;Masih sekolah ?&#8221;<br /> &#8220;Ya, Paman.&#8221;<br /> &#8220;Sekolah yang rajin, Tatia. Supaya kelak kamu bisa memiliki toko roti seperti Paman.&#8221;<br /> &#8220;Terima kasih, Paman.Saya selalu juara kelas,&#8221;ucap Tatia dengan wajah berseri.<br /> Setelah Tatia pergi, Paman Pablo menyuruh karyawannya membuat roti dengan ukuran kecil. Kini, semua orang bisa membeli roti Paman Pablo. Bahkan, tidak jarang Paman Pablo membagikan roti gratis pada anak dan orangn tidak mampu.<br /> Sejak itu Paman Pablo dikenal sebagai Paman Dermawan</p>
<p> by L. Heni Susilowati (<em>taken from Bobo 17/09/07</em>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nadine270101.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nadine270101.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=14&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/29/paman-dermawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40bdaca54a71a72cbc05db25516c52d4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nadine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lilin Ajaib</title>
		<link>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/28/lilin-ajaib/</link>
		<comments>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/28/lilin-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 03:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Harian]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng anak]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nadine270101.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Noris adalah seorang gadis yatim piatu penjual lilin. Walaupun miskin, ia selalu menolong orang yang butuh bantuannya. Suatu hari, Noris melihat seorang nenek tergeletak di pinggir jalan pasar. Noris segera menghanpiri nenek itu. &#8220;Nenek sangat lemas&#8230; haus dan lapar&#8230;&#8221; kata nenek itu. Noris segera memapah nenek itu, membawa ke rumahnya. Noris memberikan nenek itu sepiring [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=10&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Noris adalah seorang gadis yatim piatu penjual lilin. Walaupun miskin, ia selalu menolong orang yang butuh bantuannya.<br />
Suatu hari, Noris melihat seorang nenek tergeletak di pinggir jalan pasar. Noris segera menghanpiri nenek itu.<br />
&#8220;Nenek sangat lemas&#8230; haus dan lapar&#8230;&#8221; kata nenek itu.<br />
Noris segera memapah nenek itu, membawa ke rumahnya. Noris memberikan nenek itu sepiring nasi dengan ikan kecil. Itu adalah makanan terakhir yang dimiliki Noris. Nenek itu makan dengan lahap.<br />
&#8220;Anakku.. kamu sangat baik. Nenek punya hadiah untukmu.&#8221; kata nenek itu sehabis makan. Ia lalu mengeluarkan sebatang lilin berwarna merah. &#8220;Kalau kamu punya keinginan, nyalakan lilin ini dengan bijaksana,&#8221; pesan nenek itu lagi sebelum pergi dari rumah Noris.<br />
Sejak saat itu, Noris hidup berkecukupan. Kini ia memiliki toko lilin yang cukup besar. Agar lilin ajaibnya dapat digunakan lebih lama, Noris menaruh lilin itu ke dalam gelas. Tetesan lilin yang meleleh tertampung ke dalam gelas. Dengan lilin ajaib itu, Noris dapat membantu banyak orang di sekitarnya.<br />
Akan tetapi, kebaikan Noris justru membuat Pak Kamir menjadi kesal. Pak Kamir adalah orang yang paling kaya di desa itu. Pekerjaannya adalah meminjamkan uang kepada orang-orang dengan bunga yang tinggi. Dulu banyak orang desa yang terpaksa meminjam uang padanya. Namun, setelah Noris mempunyai lilin ajaib, mereka tidak lagi meminjam uang kepada Pak Kamir.<br />
Lama kelamaan Pak Kamir mulai curiga. Noris memiliki rumah dan toko lilin yang cukup bagus. Darimana ia mendapat uang sebanyak itu ?<br />
Suatu malam, Pak Kamir diam-diam memasuki rumah Noris. Ia melihat Noris menyalakan lilin dan meminta makanan. Tiba-tiba muncul banyak makanan di hadapan Noris. Sekarang Pak Kamir tahu rahasia Noris. Ketika Noris tidur, Pak Kamir pun mencuri lilin itu.<br />
Pagi harinya Noris sangat kaget karena lilin ajaibnya hilang. Namun ia tetap bersyukur karena tanpa lilin itupun, hidupnya sudah cukup. Bahkan ia tetap bisa menolong tetangganya.<br />
Sementara itu, Pak Kamir terus menerus meminta pada lilin ajaib itu. Ia juga menghambur-hamburkan uang yang didapat dari lilin itu. Pak Kamir tidak menaruhnya di dalam gelas sehingga lilin itu cepat habis.<br />
Suatu ketika, harta Pak Kamir tidak tersisa lagi. Ia jatuh miskin dan tidak memiliki pekerjaan. Pak Kamir sangat menyesal karena tidak memanfaatkan lilin ajaib itu dengan baik.</p>
<p>by Prasti Sulanjari (taken from Bobo 27/01/07)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nadine270101.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nadine270101.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=10&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/28/lilin-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40bdaca54a71a72cbc05db25516c52d4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nadine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tangga Menuju Kebahagiaan</title>
		<link>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/27/tangga-menuju-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/27/tangga-menuju-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 13:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nadine</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Harian]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng anak]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sd]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nadine270101.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Saudagar Divo sangat kaya raya. Namun ia tidak bahagia. Ia takut tidak berumur panjang. Ia ingin bertambah kaya lagi. Juga ingin memiliki kesaktian. Saudagar Divo menceritakan isi hatinya itu kepada Logi, juru masaknya yang setia. Logi sudah bertahun-tahun menemani Saudagar Divo yang tidak memiliki keluarga. Ia selalu mendengarkan keluh kesah tuannya dengan sabar. Logi tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=3&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudagar Divo sangat kaya raya. Namun ia tidak bahagia. Ia takut tidak berumur panjang. Ia ingin bertambah kaya lagi. Juga ingin memiliki kesaktian. Saudagar Divo menceritakan isi hatinya itu kepada Logi, juru masaknya yang setia. Logi sudah bertahun-tahun menemani Saudagar Divo yang tidak memiliki keluarga. Ia selalu mendengarkan keluh kesah tuannya dengan sabar. Logi tidak mengerti, mengapa harta sebanyak itu tidak membuat tuannya bahagia. Logi segera mencari akal.<br />
Suatu hari, Logi teringat pada sesuatu. Iapun mendatangi tuannya.</p>
<p>&#8220;Tuan Divo, sebaiknya Tuan mencari tangga kebahagiaan,&#8221; saran Logi.<br />
Saudagar Divo terkejut. &#8220;Tangga kebahagiaan ? Di mana aku bisa mendapatkannya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada sebuah pohon beringin besar di tengah hutan Bukit Timur. Di pohon itu ada sebuah tangga dari akar pohon. Itulah tangga kebahagiaan,&#8221; ujar Logi. &#8220;Apakah semua keinginanku bisa terkabul ? Aku ingin awet muda, melipatgandakan harta dan memiliki kesaktian.&#8221; Logi tersenyum dan mengangguk.</p>
<p>Keesokan paginya, saudagar Divo berangkat menuju hutan Bukit Timur. Dengan mudahnya ia menemukan pohon beringin besar seperti yang dikatakan Logi. Betul, ada tangga dari akar pohon terjulurdari atas pohon. Saudagar Divo menunggu beberapa saat di balik semak-semak. Ia ingin membuktikan kebenaran kata-kata Logi seblum menaiki tangga itu.</p>
<p>Mula-mula datang seorang nenek membawa guci air di pundaknya. Nenek itu menaiki tangga dan menghilang di antara rimbunan dahan beringin. Sesaat kemudian, turun seorang wanita muda dengan guci yang sama di pundaknya.</p>
<p>Saudagar Divo terkejut. Wanita itu sangat muda dan cantik. Padahal wanita yang naik sebelumnya sudah sangat tua. Berartitangga itu memang bisa membuat seseorang awet muda, pikir saudagar Divo.</p>
<p>Setelah itu, datang seorang anak laki-laki. Ia menaiki tangga sambil melempar-lempar ke udara koin di telapak tangannya. Anak itu lalu menghilang di antara rimbunan dahan. Saat ia turun kembali, ia tampak memegang masing-masing satu koin di kedua tangannya. Berarti koin itu berlipat ganda, menjadi dua! Pikir saudagar Divo girang.</p>
<p>Kemudian datang seorang pria sebaya saudagar Divo. Ia menarik sebuah gerobak berisi peti besar. Pria itu lalu mengeluarkanseutas tambang yang ujungnya terbelah dua. Di kedua ujung tambang, tampak ada kait besi. Masing-masing kait lalu ia kaitkan ke sisi kiri dan kanan peti. Pria itu lalu menaiki pohon sambil membawa ujung tambang besar. Ia pun menghilang di balik rimbun pohon. Anehnya, peti berat tadi lalu terangkat ke atas pohon dengan begitu mudahnya.</p>
<p>Saudagar Divo takjub melihat itu semua. Logi tidak berbohong! Tangga itu akan membuat semua keinginannya terkabul. Ia akan awet muda. Hartanya akan berlipat ganda. Ia juga bisa memiliki kesaktian seperti pria yang kuat tadi.<br />
Dengan tidak sabar, saudagar Divo menaiki tangga itu. Namun begitu sampai di atas, saudagar Divo sangat terkejut.</p>
<p>Ia menemukan sebuah rumah di atas pohon tersebut. Di dalamnya ada nenek yang dilihatnya pertama kalia. Ada juga beberapa anak kecil yang tidur di lantai di rumah kecil itu. SaudagarDivo lebih terkejut lagi saat wanita cantik yang tadi turun, kini datang bersama anak kecil pembawa koin. Penghuni rumah di atas pohon itu juga terkejut melihat saudagar Divo.</p>
<p>&#8220;Maaf, Tuan ini siapa ? Kenapa datang ke rumah kami ?&#8221; tanya nenek yang dilihatnya pertama kali.</p>
<p>Rumah ? Saudagar Divo bingung. IA memperkenalkan diri. Lalu bercerita tentang tangga kebahagiaan yang diceritakan Logi, juru masaknya.<br />
Para penghuni rumah pohon tersebut tertawa.<br />
Laki-laki yang mengangkat peti tadi berkata,&#8221;Jangan terlalu percaya pada cerita adikku itu, Taun. Logi memang suka bercanda.&#8221;<br />
&#8220;Logi itu adikmu ?&#8221; tanya saudagar Logi.</p>
<p>&#8220;Ya. Logi memang suka bercanda. Tapi ia sangat bertanggung jawab. Selama ini dia membantu kami dengan gaji yang didapatkannya selama bekerja dengan Tuan. Untung saja Tuan berkunjung ke sini. Jadi kami punya kesempatan untuk berterima kasih.&#8221;</p>
<p>Saudagar Divo bingung. Seingatnya, gaji Logi sangat kecil. Namun Logi masih mau berbagi dengan anggota keluarganya yang begitu banyak. Karena melihat saudagar Divo masih bingung, pria tadi lalu menerangkan&#8230;</p>
<p>&#8220;Nenek yang Ruan lihat pertama kali adalah ibuku. Ia baru saja pulang mengambil air di sungai. Lalu wanita muda yang turun setelahnya adalah adikku. Ia menggantikan tugas ibuku. Anak kecil tadi adalah anakku. Tadi ia ingin membeli sekilo ubi untuk makan siang kami. Tapi karena uangnya kurang, ia kembali ke sini untuk mengambl uang lagi. Sementara aku&#8230; haha&#8230; sebetulnya aku tidak sakti. Peti berat tadi bisa terangkat karena aku menggunakan katrol kayu. Aku menggunakan akal. Bukan kesaktian.&#8221;</p>
<p>Si nenek lalu menambahkan.</p>
<p>&#8220;Tapi mungkin Logi ada benarnya. Rumah ini adalah tangga kebahagiaan bagi kami. Logio selalu mengingatkan kami untuk saling menolong dengan tulus. Supaya kita hidup abadi di dalam semua orang meskipun kita sudah tiada. Kita juga harus bersyukur, sehingga merasa bahagia, bagai harta yang berlipat ganda. Juga mau belajar menggunakan akal dalam segala hal.&#8221;</p>
<p>Saudagar Divo terdiam. Pantas selama ini ia tidak pernah merasa bahagia. Kini ia mengert maksud Logi. Dengan berbuat baik, maka ia bisa abadi di hati semua orang. Dengan bersyukur, ia akan bahagia bagai memiliki harta berlipat ganda. Lalu akal, lebih penting daripada kesaktian dan harta.</p>
<p>oleh : Rae Sita Patappa (<em>taken from Bobo 27 Januari 2007</em>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nadine270101.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nadine270101.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nadine270101.wordpress.com&amp;blog=11120619&amp;post=3&amp;subd=nadine270101&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nadine270101.wordpress.com/2009/12/27/tangga-menuju-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/40bdaca54a71a72cbc05db25516c52d4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Nadine</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
